Editorial, 31 Agustus 2025
Di tengah duka yang menyelimuti warga Hunuth dan Masihulan akibat bencana sosial, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa membuktikan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal kebijakan di atas kertas, tapi soal kehadiran nyata di saat rakyat membutuhkan.
Bantuan senilai Rp 2 miliar yang diberikan langsung oleh Gubernur—masing-masing Rp 1 miliar untuk recovery kebakaran di Hunuth, Kota Ambon, dan Rp 1 miliar untuk korban konflik sosial di Masihulan, Maluku Tengah—adalah bukti bahwa Pemerintah Provinsi Maluku tidak menutup mata terhadap penderitaan warganya.
Apa yang dilakukan Gubernur Lewerissa patut diapresiasi, tidak hanya karena nilainya, tetapi karena pesan moral di baliknya: pemerintah harus hadir, cepat tanggap, dan berpihak kepada mereka yang terdampak. Ini adalah bentuk tanggung jawab sosial seorang pemimpin, bukan sekadar bantuan insidental.
Langkah ini juga memberi sinyal penting kepada pemerintah kabupaten/kota bahwa sinergi antarlembaga adalah kunci keberhasilan dalam pemulihan pascabencana. Ungkapan terima kasih dari Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, adalah bukti bahwa koordinasi berjalan baik, dan masyarakat bisa berharap pada kehadiran negara dalam bentuk paling konkret.
Ketika banyak pemimpin sibuk dengan agenda politik dan seremonial, Hendrik Lewerissa memilih untuk bergerak cepat, langsung ke lapangan, dan memberikan apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.
Tentu saja, bantuan ini bukan akhir dari segalanya. Pemulihan jangka panjang masih menanti. Tapi langkah awal yang kuat dan empatik dari Gubernur Lewerissa adalah fondasi penting untuk membangun kembali tidak hanya rumah-rumah yang hancur, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Semoga ini menjadi standar baru dalam kepemimpinan: cepat, konkret, dan berpihak.
Kaperwil Maluku (SP)