Editorial oleh: Muz MF. Latuconsina
Di tengah padatnya agenda pemerintahan, kunjungan Bupati Buru Ikram Umasugi ke Rumah Sakit Umum Daerah Lala, bukanlah hal yang tertulis dalam protokol formal. Sabtu (12/7/2025).
Namun di sanalah, ia hadir di sisi seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada bernama Nayla, peserta Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) yang tengah dirawat karena sakit.
Nayla bukan pejabat, bukan tokoh, bukan siapa-siapa dalam hirarki kekuasaan. Ia adalah mahasiswa hukum yang sedang mengabdi lewat program kampus di desa-desa pelosok Buru.
Tapi kehadiran Bupati di ruang perawatan Nayla, membuktikan bahwa pemimpin sejati tidak hanya hadir untuk menandatangani dokumen dan memimpin rapat.
Ia juga hadir untuk menyentuh hati, memberi semangat, dan menjadi bagian dari duka dan luka warganya bahkan mereka yang datang dari luar daerah untuk belajar dan mengabdi.
Dalam dunia yang sering sibuk dengan pencitraan dan agenda politik, langkah sunyi Bupati Ikram Umasugi menyampaikan pesan yang lebih kuat dari seribu baliho: bahwa empati masih hidup di ruang kekuasaan, dan kemanusiaan tidak pernah lekang oleh jabatan.
Mahasiswa seperti Nayla datang membawa ilmu, harapan, dan tenaga muda untuk masyarakat Buru. Ketika mereka sakit, kita tidak boleh abai.
Sebab kehadiran mereka adalah bentuk nyata solidaritas nasional, dan perhatian seorang pemimpin kepada mereka adalah bentuk balasan paling luhur dari tanah yang mereka injak.
Bupati Ikram Umasugi telah menunjukkan bahwa jabatan bukan tembok yang membatasi rasa peduli.
Ia telah memberi pelajaran, bahwa pemimpin bukan sekadar pengatur, tapi juga pengasuh. Dan dari ranjang sederhana di RSUD Lala, kita semua diingatkan: kepemimpinan yang menyentuh, lahir dari hati — bukan dari podium.
Kaperwil Maluku (SP)