Pelni: Perahu Harapan di Tengah Amukan Musim Timur

Oleh: Muz MF. Latuconsina

Musim timur kembali datang. Laut Banda mengerutkan dahi, angin memekik dari balik tebing Seram, dan ombak menggulung seperti tak sudi memberi jalan. Di dermaga Namlea, perahu-perahu kecil memilih diam. Mereka menambatkan harap pada karang, menunduk di bawah langit yang mendungnya seperti membawa kutuk.

Bacaan Lainnya

Namun, di tengah ketidakpastian laut dan langit itu, satu nama tetap tegak berdiri di benak masyarakat: Kapal Pelni.
Dialah bahtera besar yang tak gentar menghadang badai, yang tak goyah saat gelombang datang menggertak. Dalam musim timur yang menggila, Pelni hadir bukan sekadar kapal, tapi simbol kepastian bagi rakyat Buru yang ingin menyeberang ke Ambon, atau sebaliknya.

“Di musim seperti ini, Pelni adalah tumpuan utama masyarakat. Karena hanya Pelni yang bisa memberikan rasa aman dan nyaman saat laut tak bersahabat,” ujar Agus Herianta, Kepala Cabang Pelni Namlea, dengan suara tenang namun penuh keyakinan.

Kata-katanya tak berlebihan. Lihatlah antrean yang mengular di pelabuhan. Ratusan penumpang datang dari penjuru pulau, membawa serta harapan, kerinduan, bahkan dagangan yang ingin mereka selamatkan dari keterisolasian. Pelni bagi mereka adalah perahu penyambung hidup, satu-satunya moda yang mampu melayari keganasan laut Banda dengan dada tegap.

Dalam satu pelayaran Namlea-Ambon, bukan hanya manusia yang berpindah tempat. Ada rindu yang dibawa, ada doa yang ditumpangkan, ada harapan yang diselundupkan diam-diam dalam tas-tas lusuh para penumpang.
Dan Pelni, seperti ibu yang penuh kasih, memeluk semuanya tanpa keluh.

Musim timur bisa terus melolong.
Angin bisa terus mengamuk.
Tapi selama Pelni tetap berlayar, masyarakat tahu: mereka tidak ditinggalkan.

Kaperwil Maluku (SP)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *