Pemulihan Kali Anhoni Dapat Dukungan Adat, PT Global Emas Bupolo Diperkuat Kepala Soa Gebat Wael

Upaya pemulihan lingkungan di aliran Kali Anhoni, Kabupaten Buru, mendapat dukungan kuat dari pihak adat. Kepala Soa Wapsalit, Gebat Wael, menyatakan komitmen penuh untuk mendukung langkah-langkah yang diambil oleh PT Global Emas Bupolo (PT GEB) dalam merehabilitasi kawasan yang terdampak aktivitas penambangan ilegal.

Kali Anhoni merupakan sumber air vital bagi masyarakat di sekitarnya, dan kerusakan yang terjadi selama bertahun-tahun telah menjadi perhatian berbagai pihak.

Bacaan Lainnya

“Kami menilai langkah PT GEB ini sebagai bentuk tanggung jawab yang nyata. Pemulihan Kali Anhoni bukan hanya soal lingkungan, tapi juga soal keberlangsungan hidup masyarakat adat,” ujar Gebat Wael.

Pihak adat menegaskan siap mendukung penuh dalam proses pemulihan yang mengedepankan nilai keberlanjutan, partisipasi masyarakat lokal, dan penghormatan terhadap wilayah adat.

Sebagai bagian dari inisiatif tersebut, PT EGB telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 40 hingga Rp 50 miliar (empat puluh hingga lima puluh miliar rupiah). Dana ini difokuskan untuk proses pengangkatan sedimen yang tercemar merkuri, serta pemulihan ekosistem air di sekitar sungai.

Direktur Utama PT EGB, Mansur Latakka, menegaskan bahwa proyek ini bukan bagian dari ekspansi usaha, melainkan langkah awal menuju tanggung jawab ekologis perusahaan.

“Kami ingin memulihkan kali Anhoni harus sehat kembali. Dukungan dari masyarakat adat memberi energi positif dalam proses ini,” ungkap Mansur.

Untuk memastikan bahwa program rehabilitasi berjalan secara ilmiah dan akuntabel, PT GEB juga menjalin kerja sama dengan Universitas Pattimura (Unpatti). Kolaborasi ini bertujuan untuk menyediakan kajian berbasis data dan pengawasan independen atas kegiatan pemulihan.

Kepala Soa Gebat Wael menyambut keterlibatan akademisi sebagai bentuk komitmen pada transparansi.

“Kalau perusahaan sudah terbuka dalam pembiayaan, pelibatan ilmuwan, dan menggandeng kami masyarakat adat, maka kita semua punya tanggung jawab moral untuk ikut menjaga. Ini bukan sekadar proyek, tapi warisan untuk anak cucu kita,” tutur Gebat Wael.

Kaperwil Maluku (SP)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *