Buru-fokuspost.com-Masyarakat Kabupaten Buru kembali mengangkat peringatan keras terkait kondisi Kali Anhoni, yang kini disebut sebagai titik paling kritis dalam krisis lingkungan di Pulau Buru.
Selama ini perhatian publik banyak tertuju pada sawah yang tercemar, namun warga menegaskan bahwa akar persoalan sesungguhnya berada pada aliran Kali Anhoni.
Kali Anhoni diketahui menjadi jalur utama aliran limbah tambang termasuk merkuri dan logam berat lainnya yang dilepas tanpa pengendalian.
Dari hulu, racun itu terbawa masuk ke lahan pertanian lalu mengalir hingga bermuara ke Teluk Kayeli.
Sedimen beracun kemudian mengendap di pesisir dan perlahan merusak ekosistem laut yang menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga nelayan.
Sejumlah temuan lapangan menunjukkan kadar logam berat yang sangat tinggi di sepanjang aliran sungai tersebut, menandai bahwa ini adalah krisis ekologis nyata yang membutuhkan penanganan menyeluruh.
Warga menilai bahwa langkah parsia lseperti hanya menertibkan tambang ilegal tidak cukup untuk menghentikan skala pencemaran yang sudah terjadi.
Karena itu, masyarakat mendesak pemerintah daerah melakukan pemulihan menyeluruh di sepanjang alur Kali Anhoni.
Mereka mengingatkan bahwa jika pencemaran terus diabaikan, dampaknya bisa permanen: sawah rusak, laut tercemar, nelayan kehilangan mata pencaharian, dan generasi muda kehilangan akses terhadap pangan yang sehat.
Masyarakat adat juga ikut menyuarakan desakan, mengingat wilayah adat mereka terancam rusak tanpa pemulihan cepat.
Mereka meminta Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, mengambil langkah tegas terlebih sudah ada pihak swasta, yakni PT GEB yang disebut siap untuk melakukan kegiatan penanganan dan pemulihan apabila mendapatkan dukungan dan kejelasan dari pemerintah daerah.
Warga menegaskan bahwa persoalan ini tidak lagi sekadar soal aktivitas tambang semata, tetapi telah berubah menjadi persoalan hidup dan masa depan masyarakat Buru yang sangat bergantung pada kesehatan sungai, daratan, dan laut mereka.
Kaperwil Maluku (SP)







