Oleh: Muz MF. Latuconsina.
Musyawarah Daerah (Musda) VI DPD Pengajian Al-Hidayah Kabupaten Buru baru saja usai. Dalam forum sakral organisasi keumatan ini, satu keputusan penting lahir:
Ramla Salampessy dipercaya menahkodai Al-Hidayah lima tahun ke depan. Sebuah momen penting, bukan hanya bagi organisasi itu sendiri, tetapi juga bagi gerakan keumatan secara lebih luas.
Terpilihnya Ramla adalah koreksi sejarah atas bunyinya suara perempuan dalam struktur kepemimpinan umat selama ini.
Sejak lama, perempuan muslim di berbagai pelosok nusantara menjadi tulang punggung pengajian, majelis taklim, dan aktivitas sosial keagamaan.
Mereka hadir, aktif, loyal, dan berkontribusi besar. Namun ironisnya, dalam struktur formal, mereka lebih sering dijadikan pelengkap, bukan penentu arah.
Kehadiran Ramla Salampessy sebagai pemimpin bukan hanya simbol, melainkan representasi dari perubahan paradigma: bahwa perempuan bukan sekadar jamaah, tapi juga pemimpin umat.
Pilihan Musda VI ini adalah cerminan kedewasaan organisasi. Al-Hidayah Kabupaten Buru membuktikan bahwa komitmen keumatan tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh kapasitas, integritas, dan jejak pengabdian.
Ini adalah penegasan bahwa organisasi keagamaan pun bisa menjadi garda depan dalam memperjuangkan keadilan representatif—bahwa ruang publik umat mesti memberi tempat yang setara bagi perempuan.
Ramla tidak hanya membawa harapan baru, tetapi juga beban sejarah. Ia memikul mandat besar untuk menunjukkan bahwa perempuan muslim tidak hanya mampu mengorganisir, tetapi juga memimpin dan mewujudkan visi besar keumatan.
Kepemimpinannya akan diuji bukan hanya oleh program kerja, tapi oleh ekspektasi bahwa ia menjadi teladan yang mematahkan keraguan, serta inspirasi bagi generasi muslimah muda.
Redaksi memandang bahwa momentum ini harus dijaga. Ke depan, struktur-struktur organisasi umat lainnya baik di tingkat lokal maupun nasional perlu belajar dari langkah Al-Hidayah.
Keadilan gender dalam kepemimpinan bukan tuntutan Barat, melainkan bagian dari spirit Islam yang menjunjung kemuliaan manusia tanpa diskriminasi jenis kelamin.
Musda VI telah mencatat sejarah. Tapi tugas belum selesai. Ramla Salampessy dan Al-Hidayah kini berada di persimpangan antara harapan dan kenyataan.
Namun, satu hal yang pasti: sejarah telah dikoreksi, dan perempuan telah mengambil tempat yang seharusnya.
Kaperwil Maluku (SP)