Rustam Fadly Tukuboya: Gerindra Buru dan Tantangan Konsolidasi Jelang Kontestasi Politik 2029

Editorial oleh: Drs. Muz Latuconsina, MF.

Penunjukan M. Rustam Fadly Tukuboya, SH. sebagai Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Buru oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerindra bukan sekadar pergantian struktural.

Bacaan Lainnya

Ia merupakan sinyal kuat bahwa partai berlambang kepala garuda itu tengah mempercepat konsolidasi di daerah-daerah strategis menjelang agenda politik besar—Pilkada, Pilgub, hingga Pileg 2029.

Keputusan yang diambil melalui rapat internal singkat di Namlea, yang dipimpin langsung oleh Ketua DPP Gerindra, Hendrik Lewerissa, SH, LLM. menunjukkan urgensi dan fokus partai dalam memperkuat basis organisasi di Maluku.

Lewerissa, dalam arahannya, menekankan pentingnya pembenahan struktur hingga ke tingkat kecamatan dan desa—sebuah langkah fundamental bagi partai yang ingin memastikan mesin politiknya mampu bergerak efektif dalam setiap kontestasi.

Gerindra memang memiliki modal kader yang kuat, baik di parlemen maupun eksekutif. Namun, tanpa kesolidan organisasi di level akar rumput, potensi tersebut sulit diterjemahkan menjadi kemenangan politik.

Di sinilah tantangan pertama yang kini berada di pundak Tukuboya: merapikan organisasi, menyusun pengurus baru, dan memastikan bahwa struktur partai tidak hanya lengkap di atas kertas, tetapi hidup dan bekerja.

Tukuboya sendiri tampak memahami betul beratnya tanggung jawab tersebut. Visi menambah kursi di DPRD Kabupaten Buru dan merebut kursi di DPRD Provinsi Maluku pada Pileg 2029 menunjukkan ambisi yang realistis namun membutuhkan upaya konsolidasi luar biasa.

Kehadiran figur-figur strategis seperti Gerson Elieser Selsily—Wakil Bupati Buru Selatan yang kini memimpin DPC Gerindra Buru Selatan—menjadi modal sosial-politik penting bagi terbentangnya jejaring dukungan yang lebih luas.

Namun, target politik yang agresif harus diimbangi dengan strategi yang matang. Menjelang Pilkada Buru dan Pilgub Maluku, Gerindra membutuhkan bukan hanya konsolidasi internal, tetapi juga kemampuan membangun koalisi, membaca peta kekuatan lokal, serta memaksimalkan figur-figur yang memiliki resonansi di publik.

Penunjukan Tukuboya bisa menjadi momentum baru bagi Gerindra Buru—jika diikuti dengan kerja nyata, manajemen organisasi yang disiplin, dan keterbukaan terhadap dinamika politik lokal.

Di tengah kompetisi partai yang semakin ketat, Gerindra tidak lagi bisa mengandalkan popularitas nasional atau figur semata; kekuatan struktur dan kedekatan dengan masyarakat menjadi faktor penentu.

Pada akhirnya, keputusan DPP Gerindra ini adalah langkah awal dari perjalanan yang panjang. Mampu atau tidaknya Tukuboya membawa angin segar bagi penguatan organisasi Gerindra di Kabupaten Buru akan sangat ditentukan oleh kemampuannya menerjemahkan arahan pusat menjadi tindakan konkret.

Konsolidasi bukan sekadar kata kunci politikia adalah pekerjaan besar yang membutuhkan loyalitas, strategi, dan kehadiran nyata di tengah masyarakat.

Gerindra Buru kini berada di persimpangan penti Nn ng. Jika momentum ini dimanfaatkan dengan baik, 2029 bisa menjadi tahun pembuktian. Jika tidak, target hanya akan tinggal target. Waktu akan menjawab.

Kaperwil Maluku (SP)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *