Gunung Botak Steril dari PETI, Tuduhan Rendaman Emas ke TNI Disebut Hoaks

Buru, FOKUSPOST.com – Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan Gunung Botak, Kabupaten Buru, dipastikan masih steril pasca penertiban dan pengamanan ketat yang dilakukan personel Yonif 733/Masariku Kodam XV/Pattimura.

Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, Rabu (3/6/2026), tidak ditemukan aktivitas pertambangan dalam bentuk apa pun, baik penggunaan dompeng, tembak larut, kolam rendaman, maupun metode pengolahan emas lainnya yang sebelumnya marak terjadi di kawasan tersebut.

Bacaan Lainnya

Sejak operasi penyisiran dan penertiban pada Desember 2025 lalu, personel Yonif 733/Masariku terus melakukan patroli rutin dan pengawasan intensif di seluruh areal bekas PETI Gunung Botak.

Meski wilayah pengamanan sangat luas dan jumlah personel terbatas, aparat TNI tetap konsisten menjaga kawasan itu agar tidak kembali dimasuki para penambang ilegal.

Di tengah upaya pengamanan tersebut, muncul tudingan dari sebuah akun Facebook bernama Sintia Indri yang menyebut adanya aktivitas pengolahan emas metode rendaman yang diduga dilakukan oleh oknum aparat di lokasi Gunung Botak.

Tudingan tersebut langsung menuai reaksi dari berbagai pihak, termasuk Wakil Ketua Pemuda Adat Buru yang menilai informasi tersebut sebagai fitnah dan tidak berdasar.

“Saya mengutuk keras postingan yang mencemarkan nama baik institusi TNI. Tuduhan itu disampaikan tanpa bukti dan tanpa melakukan konfirmasi kepada personel Yonif 733/Masariku yang bertugas di Pos Pengamanan Gunung Botak,” tegasnya.

Ia meminta aparat penegak hukum menelusuri dan memproses pemilik akun yang menyebarkan informasi tersebut apabila terbukti melanggar hukum.

Menurutnya, hingga saat ini pengamanan yang dilakukan personel TNI terbukti efektif menutup akses masuk para penambang ilegal ke kawasan Gunung Botak.

Jika masih ditemukan penambang yang mencoba masuk melalui jalur-jalur tersembunyi, mereka langsung diamankan dan diperintahkan meninggalkan lokasi.

Wakil Ketua Pemuda Adat Buru juga menyampaikan apresiasi kepada personel Yonif 733/Masariku yang terus menjaga stabilitas keamanan di kawasan tersebut meski dengan keterbatasan jumlah personel.

Di sisi lain, ia meminta Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, segera mencari solusi dan mempercepat regulasi yang dapat memberikan kepastian bagi masyarakat adat pemilik hak ulayat agar dapat kembali memperoleh sumber penghidupan secara legal.

“Gunung Botak merupakan dulang makan masyarakat Pulau Buru. Penutupan aktivitas yang terlalu lama tentu berdampak terhadap perekonomian warga, transportasi, hingga biaya pendidikan keluarga,” ujarnya.

Sementara itu, hasil pemantauan media ini menunjukkan bahwa hingga saat ini tidak terdapat aktivitas dari 10 koperasi produsen maupun perusahaan yang sebelumnya dikaitkan dengan pengelolaan kawasan tersebut, termasuk PT 3M dan PT Wansuwai Indo Mining.

Sampai berita ini diterbitkan, kawasan Gunung Botak tetap dalam kondisi aman, terkendali, dan berada di bawah pengawasan ketat personel Yonif 733/Masariku Kodam XV/Pattimura guna mencegah kembalinya aktivitas PETI di wilayah tersebut.

(SP)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *